Menyoal Ada

Posted in CatetanJerujimati with tags , , , , , , on 15 Februari 2013 by jerujimati

Jadi, tak perlulah memenuhi pikir dengan kesesakan. Sebab, picik benar pada pikir beri penjara. Kuat bersekat pula. Setelah itu, jangan harap limpah, rata pun tidak.

Yang berjalan pada arah atau melawan, sama saja. Gerak lahir hanya unjuk sekadar ujud. Cuma, ujung benar yang ‘kan kasih beda di muka.

‘Tika lahir tanpa apa. Lantas berjejalan mengapit beragam rupa senjata. Lalu menghampa. Sehabisnya: menawa atau menyia?

Jadi, tak perlulah menyesak pada pikir. Sebab, tetap ada yang ‘kan leluasa.

Februari 2013

Desember: Pergulatan akan Perseteruan

Posted in TilikJerujimati with tags , , , , , , , on 6 Desember 2012 by jerujimati
hujan

Foto: Spesial

Dulu, untuk mengingat kapan musim hujan datang dan kapan musim kering tiba, saya mengingat  empat bulan terakhir kalender Masehi, yakni September, Oktober, November, dan Desember. Sebab, “-ber” di setiap akhir bulan itu mengingatkan saya pada ember, wadah penampungan air. Berarti, pada bulan-bulan tersebut hujan akan turun setiap tahunnya.

Sampai pada akhirnya, beberapa tahun lalu, saya kenal dengan lagu Desember yang dipopulerkan oleh Efek Rumah Kaca. Pikiran saya ditarik ke zaman sekolah dasar dulu, ketika mengingat kapan turunnya hujan. Dan kini, ingatan itu abadi dalam sebuah lagu, hujan dan Desember. Ah, itu hanya pikiran saya. Di sini, saya akan membahas lirik Desember dan kebersinggungannya dengan hujan serta realitas di sekitarnya.

Berdasarkan lirik tersebut, saya tidak akan mengacukan bahasan kepada Efek Rumah Kaca atau Cholil Mahmud selaku pencipta lirik, tapi saya akan menggunakan istilah “aku lirik”, sebagai aku yang hadir dalam lirik.

Sejak pertama kali saya dengar, lagu ini langsung menempel di benak saya. Sebab, lirik yang ringan dan irama yang pelan bagai rinai hujan begitu membuat saya selaku pendengar menikmati lagu ini, seperti Baca lebih lanjut

1.600 MDPL

Posted in JelajahJerujimati with tags , , on 29 Oktober 2012 by jerujimati

“Kita Jakarta sekali”. Kalimat itu mengiang di telinga saya. Selepas senja, saya bersama pasangan mewujudkan rencana yang tak muluk. “Ke alam”, hanya itu yang terpikir sebagai tujuan untuk sekadar melepas penat atau mencari wujud keramaian lain.

Mengapa “Jakarta sekali”? Sebab, akhir pekan dan kami melaju menuju Puncak. Bahwa lokasi ini (mungkin) merupakan target serbuan sebagian insan Jakarta untuk berakhir pekan. Tentu bukan berarti tempat ini didominasi oleh orang Jakarta saja. Atau, bisa jadi, kutipan itu hanya sebuah idiom dari penggambaran bahwa Jakarta merupakan kota para pekerja. Jadi, hanya untuk bekerja, lalu manfaatkan waktu senggang untuk keluar dari Ibu Kota ini agar sebentar mencoba suasana lain.

Sepeda motor menjadi pilihan kami membelah jalanan. Cibodas, tepatnya Curug Cibeureum, lokasi inilah yang akan kami tuju. Sekadar menikmati bening sekaligus dinginnya air pegunungan. Lalu, meneguk kopi panas yang cepat dingin di salah satu warung peristirahatan bagi para pendaki Gunung Gede Pangrango yang naik lewat pintu Cibodas.

Sudah datang malam. Kami berkendara menuju Bogor melewati Parung. Volume kendaraan yang ramai sudah menjadi prediksi. Sebab, bukan hanya karena jam pulang kerja, kepadatan ini juga (mungkin) diisi oleh orang-orang yang setujuan dengan kami.

Sekitar 2 jam berkendara, kami memasuki wilayah Bogor. Dingin mulai terasa. Tak ada persiapan khusus yang dilakukan sebelum keberangkatan, kecuali berjaket tebal dan semangat untuk melepas penat. Kami memutuskan beristirahat sejenak sekaligus bersantap makanan berat di salah satu restoran cepat saji.

Setengah jam berlalu di restoran ini. Kami pun melanjutkan perjalanan. Tepat menjelang tengah malam, kami memasuki pelataran Cibodas. Cukup membeli tiket seharga Rp 3.000, kami langsung menuju tempat peristirahatan, yakni warung Mang Idi.

Warung Mang Idi merupakan salah satu warung di pelataran ini yang menyediakan ruangan peristirahatan bagi para pendaki Gunung Gede Baca lebih lanjut

Yang Mati Suri…? (Apa Alienasi?)

Posted in CatetanJerujimati with tags , , on 8 Oktober 2012 by jerujimati

Tiba-tiba teringat masa yang di belakang—entah sudah jauh atau sangat dekat. Ketika “orang hebat” berkumpul membikin rumahnya sendiri. Cita-cita tinggi ada di situ (waktu itu). Dari senyap, akhirnya mulai bersuara. Siapa bisa mengira bahwa itu suara akan jadi apa. Yang pasti adanya bernada.

Lantas tercekik juga. Sampai “lupa” mengurus rumah. Mungkin mencari suara masing-masing.

Apa kabar kawan?

Yang Melepas Yang Menunggu

Posted in CatetanJerujimati with tags , , , on 11 Juli 2012 by jerujimati

Mendesak sesak. Dicarinya kiblat. Ke barat kata orang-orang. Seolah tak ada jejak yang membekas di pijakan. Lalu langit runtuh tepat di samping pondasinya yang kukuh. Tak ada percikan. Hanya debu yang menyatroni tengkuknya sambil mengerat tiap helai urat. Adakah masa tiba? Atau jiwa haus akan binasa?

Sekali ini, tak ada jawab yang diingin. Tidak pula mencari. Hanya berharap jauh dari tarik. Biar tak ada biak. Tak lagi biak. Pesiang saja dalamnya. Maka, malam terkerat pada sentuhan kepalan.

Aroma kaku mulai bergeduru. Ketika itu, semua tersapu. Tapi angin menggaduh. Di ujung pecah.

Tak ada yang kenal. Meski letih lupa dari segala ingat. Lantas tak ada yang menunggu di penghabisan. Sekadar menjabat—secarik sungging pelupa diri.

Ada sebentar singgah buncah meresah. Beradu. Serupa medan yang haus akan darah. Hanya warna yang berbeda. Lalu tersadar kelam hanya pelepas akan penantian.

Sayang Sekali Kau Pergi di Situasi Begini

Posted in CatetanJerujimati with tags , , , on 14 April 2012 by jerujimati

Sayang sekali kau pergi di situasi begini. Ketika harmoni jauh melampaui kami bahkan dari sekadar mimpi. Terlalu berlebih mungkin dengan kutulis ‘pergi’, namun itu yang hanya kuat menggerak jejari.

Kau telah menarik gagang pintu. Aku tak di situ. Hanya dekat denganmu. Kusintuh kau dari jauh sebab kubiarkan ini jarak membagak agar segala tak makin semak. Hingga langkahmu menjejak, sedu kusimpan rapat-rapat.

Windu berlalu menyentak benakku. Sebegitu kuat aku beranjak dan kau menadahkan tangan tepat di mukaku. Seolah tak perlu apa di dunia bagiku. Dan kau membuat ragaku membelalak. Menarik malam bukan untuk bermimpi, melainkan merangkai mimpi. Aku ingin selalu bangun.

Tak dipungkiri, nafsu turut ada di kami. Sekali dua boleh lah agar tersadar untuk kembali menginjak bumi. Karena, toh itu bagai kulit ari, biar diri tak hangus terpanggang matari.

Kami berjarak dulu bertepat waktu. Setelahnya, melintas tak pernah diambil ragu. Kau kembali menyentak kreasiku hingga aku menjadi lebih dari sekadar tahu. Hanya saja, kau juga yang menyepak kreasiku, turut luluh-lantak segala yang sempat didekap. Impas, pikirku.

Seperti bergerilya, lalu, kami di taman masing-masing. Aku hanya menyimakmu lewat telinga. Seraya menyemai agar kau tumbuh menjadi kau. Hingga tibalah pada masa bahwa kau lebih jauh bergerilya. Meski sering juga berselisih dalam gerilya, kami bercanda berujung tuba.

Pada langkah itu, mungkin cemasku amat kelewat hingga tak mampu kubendung benteng pikirku agar kau segala kau. Namun, kadang benteng itu juga yang membuat kami dingin-kaku bagai tugu. Lalu kupilih bungkam lagi diam, bahkan jauh mendalam kelam. Sementara kau, tak kutahu, tak kutahu.

Aku selalu ambil sempat untuk berkaca takut meluka ini muka. Lantas soal apa ini segala? Hanya aku tak mampu mendusta refleksi mata yang tak mungkin tak kubuka.

Kulihat rangkul eratmu dalam melepas. Hangat di ujung mata. Aku ingin merasa, tapi kupilih membinasa. Dan kini semua menderap. Tanpa jabat, semoga erat.

Paradoks(i)al, Final

Posted in CatetanJerujimati with tags , , , on 3 April 2012 by jerujimati

Setiap orang menurut saya berhak memiliki konsep pribadi. Terdengar individualis memang. Merangkai dalam kepala untuk apa yang disebut mencipta. Imaji di sini bermain. Melayangkan jauh pikiran untuk sesuatu yang ternama ideal. Senyum sendiri melihat hal itu ada di muka. Seolah dunia ada di kepalan. Ini bukan cerita tentang kuasa, hanya sederap pikir dalam otak yang sehat (mungkin tak pernah sehat). Lalu sebentar hidup dalam apa yang dicipta sendiri.

Namun, di balik itu ada beberapa titik bahwa sebagian orang mampu menepis ciptanya sehingga ikut pada aliran arus, seolah mati demi hidup. Berjejalan dalam lingkar, tak ambil pusing soal berterima atau tidak. Yang jelas, “Anda senang, saya kepayang”. Yang begini tentu perlu mendapat apresiasi, bahwa bagaimana dia bunuh diri untuk menghidupi, tidak diri sendiri, melainkan banyak diri.

Lalu apakah yang –banyak– dihidupi paham, jasad tergantung tanpa tali, tapi dikendali. Tersengal, sementara takada halangan udara memasuki setiap rongga. Sekali terpejam, ingin benar nyenyak dan bangun dengan segala kematangan. Walhasil, nihil, godam tepat mendentum di samping telinga. Tak nyaring memang, cuma nyaris tuli.

Seketika, cipta berputar di kepala. Berkeras ingin menahan diri untuk alasan yang tak pasti. Kotak hadiah Zeus membayang, sekiranya Pandora lebih patuh pada Prometheus. Lantas siapa yang tahu hati Pandora, melawan kepenasaranan. Sudah saja takperlu diberi, mungkin. Toh, yang Zeus kasih begitu menarik hati.

Tahan. Mungkin ini menjadi pertimbangan besar untuk tidak terseok melangkah. Sementara, kesadaran lain mengakui ini berantah. Jadi, kotak Pandora biarkan saja sebagai penggoda. Toh, akal akan lebih cergas selain cerdas. Tapi

Ada yang menggeliat di sini. Misteri di muka, walau tak pasti. Menyia berarti membinasa. Terus saja menggali sampai dasar habis tenaga. Pada akhirnya, tidak menyerah, tidak mengalah, tidak melawan, tidak menang, tidak kalah, hanya akulah.

Kotak Pandora menganga. Segala menyebar. Dengan segala sisa, aku melongok jauh ke dalam.

%d blogger menyukai ini: